Perang Kuning

 Perang Kuning (Geel Orloog) adalah perlawanan aliansi Tionghoa-Jawa melawan VOC. Sebab khusus dari perang ini adalah tindakan VOC yang menyerbu Lasem pada tahun 1679, karena warga Tionghoa di Lasem dianggap menjadi pesaing perdagangan VOC. Pemimpin Lasem, Raden Panji Margono dan sahabatnya, Oei Ing Kiat memutuskan untuk melakukan perlawanan terhadap VOC. Oei kemudian menghubungi kenalannya, yaitu Tan Kee Wie, seorang pembuat batu bata yang juga merangkap sebagai master Kung Fu. Mereka juga mendapat bantuan Souw Pan Chiang alias Sepanjang dan Tan Sin Ko alias Singshe. Penguasa Mataram, Pakubuwono II diharapkan ikut membantu, namun dirinya bersikap ambigu dalam peperangan ini. Maka, pasukan Tionghoa-Jawa pun mencabut mandat atas Pakubuwono II dan memilih penguasa baru. Tan He Tik dari pihak Tionghoa menominasikan putra angkatnya yang juga merupakan cucu dari mendiang Amangkurat III, yakni Raden Mas Garendi. Usulan itu disetujui oleh Raden Mas Said dan Patih Notokusumo dari pihak Jaw...

short_link

coinpayu

Sejarah di Indonesia

 Pada akhir Perang Jawa, Mayor Andreas Victor Michiels merupakan komandan pasukan gerak cepat ke-11 yang melakukan operasi militer untuk membasmi Dipanagara di Jawa Tengah bagian selatan. Lelaki asal Maastrich itu mengawali karir militernya kala remaja pada Pertempuran Waterloo. Kemudian berjejak di Jawa pada 1817.


Pasukan Michiel pernah disergap oleh laskar Dipanagara yang bersembunyi di balik rerimbunan alang-alang di Kedu Selatan pada Mei 1827. Kala itu Michiels merupakan komandan pasukan gerak cepat ke-7 yang bermarkas di Wonosobo. Dalam catatan perwira semasa, laskar Dipanagara kerap menyerang dari balik rerimbunan alang-alang di tepian jalan. Kemudian mereka membentuk formasi bulan sabit yang memotong jalan sembari menembaki pasukan tentara Hindia Belanda.


Michiels inilah yang nyaris menangkap Dipanagara saat melarikan diri di Pegunungan Gowong, kawasan barat Kedu pada 11 November 1829. Sebuah peristiwa yang terjadi tepat pada hari lahir Dipanagara—kado sial untuk Sang Pangeran di hari ulang tahunnya yang ke-44. Serdadu Belanda dan Arafura melakukan pengejaran di bawah komando Michiels.


Sang Pangeran pun berlari meninggalkan beberapa kudanya, tombak pusaka Kiai Rondan yang diyakininya memberi sinyal apabila ada bahaya, dan sekotak peti yang berisi busana perang suci. Kemudian, dia meloncat ke jurang dan bersembunyi di balik rerimbunan gelagah.

Sejak kejadian nahas itu Dipanagara berjalan kaki sepanjang hutan-hutan Bagelen, hidup terlunta-lunta, dan terserang malaria parah. Dia melakoni hidup sebagai pelarian perang bersama dua abdinya, Bantengwareng dan Roto. Mereka terdesak hingga ke Remo pada pertengahan Februari 1830, sebuah desa antara Bagelen dan Banyumas.


Sebelum peristiwa sial itu, laskar Dipanagara mengahadapi pertempuran terakhir dan salah satu yang tersengit di Siluk, kawasan karst di barat daya Yogyakarta, pada 17 September 1829.


Pertempuran sengit itu membuat Dipanagara dan laskarnya tercerai berai. Sejak saat itu pula Sang Pangeran mundur ke barat, menyeberang Kali Progo dan tak pernah lagi menjejakkan kakinya di Tanah Mataram.


Kisah kesialan Sang Pangeran itu dicatat dalam "The Power of Prophecy: Prince Dipanagara and the end of an old order in Java", 1785-1855 karya Peter Brian Ramsay Carey, sejarawan asal Inggris. Buku tersebut terbit pertama kali pada 2007, kemudian disusul oleh edisi dalam bahasa Indonesia yang terbit pada 2012.


Stelsel Benteng Jenderal De Kock memang menyulitkan gerak Dipanagara. Namun, sejatinya  kekuatan koalisi laskar pangeran itu telah pecah.


Pada hari yang sama, di belahan rimba yang lain, ceceran laskar Dipanagara banyak yang putus asa dan memilih untuk menyerah. Basah Kerta Pengalasan—komandan brigade laskar Dipanagara yang gemar memadat—bersama tiga tumenggung dan sebelas perwira telah menyerah di Kedungkebo, kawasan yang kini dikenal sebagai Purworejo.


Bulan sebelumnya, sekitar pertengahan Oktober 1829, Senthot menyerah karena sudah tidak ada lagi dukungan rakyat. Lesunya dukungan rakyat itu lantaran Senthot diizinkan Dipanagara untuk memungut pajak. Ketika santri dan rakyat berkurang dukungannya, perang gerilya menjadi sulit. Sang Pangeran pun menjadi kesepian dalam pengembaraan perang.


Setahun sebelumnya, pada November 1828, Kiai Maja memutuskan untuk menyerah kepada Belanda di lereng Merapi karena tidak sependapat dengan Dipanagara soal pendirian keraton dan keluhuran agama Islam.


Dipanagara pun kesepian ditinggalkan para pengikutnya di akhir perang lima tahun yang melelahkan. Kelak, setelah Sang Pangeran dijebak dalam sebuah pengkhianatan di Wisma Residen Magelang, dia harus menjalani kehidupan yang tragis sebagai tawanan perang di pengasingan. Dia tak pernah kembali ke Jawa.

“Dia punya badan sangat kuat, tetapi kecil dan agak pendek,” ujar Carey. Sebenarnya…situasi militer sudah tak ada harapan, demikian kata Carey, tetapi Dipanagara masih bertahan untuk lolos. “Saya tidak mengerti dia bisa empat bulan hanya jalan kaki. Ketika malam dia tidur didalam gua atau di bawah pohon. Bahkan, dia sering tidak bisa makan.”


Perang Jawa telah meminta tumbal nyawa yang mengerikan. Taksirannya, sekitar 200.000 orang Jawa mati di medan laga, sehingga penduduk Yogyakarta tinggal separuh. Sementara itu sekitar dua juta orang lainnya hidup sengsara. Ternak habis dan pertanian rusak berat. Sekitar 15.000 serdadu Hindia Belanda hilang dan tewas. Hampir separuhnya serdadu pribumi. Belanda pun nyaris bangkrut!


Pasca-Perang Jawa, Michiels bertugas dalam Perang Padri. Sekitar empat tahun setelah Dipanagara menempati pengasingan barunya di Makassar, Michiels menjabat sebagai Gubernur Pantai Barat Sumatra. Pangkat mayor jenderal mulai menghias dada kirinya sejak 1843. Karena kegemilangan prestasinya, dia menjabat sebagai komisaris pemerintahan urusan Bali dan komandan KNIL dalam sebuah ekspedisi militer di Bali pada awal 1849.

Pada suatu malam, Michiels terbunuh dalam sebuah serangan laskar Bali di perkemahan militer Hindia Belanda dekat Pantai Kusamba, Klungkung. Nasibnya berakhir tragis, lima hari sebelum dia menerima kado ulang tahunnya yang ke-52.


Referensi:

Thamrin, Mahandis Yoanata. (2014). "Sebuah Kado Sial di Hari Ulang Tahun Dipanagara". nationalgeographic.grid.id. Diakses pada 2021


Sejarah Kerajaan Majapahit mencapai masa puncaknya para era Raja Hayam Wuruk. Keruntuhannya mulai terlihat sepeninggal Mahapatih Gajah Mada. Sejarah Indonesia mencatat, di wilayah Nusantara pernah berdiri negara besar dan kuat yang akhirnya musnah, yakni Kerajaan Majapahit. Kemaharajaan Majapahit menjadi imperium adidaya pada abad ke-13 Masehi.

M.C. Ricklefs dalam Sejarah Indonesia Modern (1991) menyebut Majapahit merupakan kerajaan Hindu-Buddha terakhir yang menguasai Nusantara dan dianggap sebagai salah satu negara terbesar dalam sejarah Indonesia.Raden Wijaya adalah pendiri Kerajaan Majapahit yang bertakhta pada 1293-1309 dengan gelar Kertarajasa Jayawardhana. Awalnya, Majapahit berpusat di Mojokerto, Jawa Timur. Pada era Jayanegara (1309-1328), ibukota dipindahkan ke Trowulan. Sejak Girindrawardhana (1456-1466) berkuasa, pusat Majapahit digeser lagi, kali ini ke Kediri.


Kejayaan Kerajaan Majapahit Majapahit mencapai masa jaya pada era Raja Hayam Wuruk atau Rajasanagara (1350-1389) berkat dukungan Mahapatih Gajah Mada. Tahun 1336, saat pengangkatannya menjadi mahapatih pada era Tribhuwana Tunggadewi (ibunda Hayam Wuruk), Gajah Mada mengucapkan Sumpah Amukti Palapa yang kelak melegenda.


Gajah Mada bersumpah akan menyatukan wilayah-wilayah Nusantara di bawah naungan Majapahit. Kelak, ikrar ini terwujud. Dikutip dari buku Menuju Puncak Kemegahan: Sejarah Kerajaan Majapahit (2005) karya Slamet Muljana, Sumpah Amukti Palapa telah mengantarkan Majapahit ke gerbang kejayaan untuk pertamakalinya dalam sejarah.


Wilayah kekuasaan Majapahit, tercatat dalam Nagarakertagama, meliputi Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan, hingga Indonesia bagian timur, termasuk Nusa Tenggara, Sulawesi, hingga sebagian Maluku. Masih menurut Negarakertagama seperti dikutip dari buku Dinamika Islam Filipina, Burma, dan Thailand karya Choirul Fuad Yusuf (2013), tidak kurang dari 98 kerajaan yang bernaung di bawah kuasa Majapahit Pengaruh dan ekspansi Majapahit sampai pula ke negeri-negeri seberang, dari Semenanjung Malaya (Malaysia dan Brunei), Tumasik (Singapura), serta sebagian Thailand dan Filipina. Angkatan Laut Majapahit waktu itu sangat kuat sehingga disebut sebagai Talasokrasi atau Kemaharajaan Bahari.


Keruntuhan Kerajaan Majapahit Wafatnya Gajah Mada pada 1364 menjadi salah satu faktor penyebab melemahnya Majapahit. Hayam Wuruk yang sangat menghormati sosok penasihatnya itu tidak menunjuk mahapatih baru. Baginya, Gajah Mada tak tergantikan. Sepeninggal Gajah Mada, Hayam Wuruk limbung. Kejayaan Majapahit goyah. Keruntuhan bahkan kepunahan imperium besar ini pun mulai terlihat.


Komentar